Sekolah Komunisme di Vietnam?

Vietnam mencoba menghidupkan budaya Komunisme-nya yang mulai pudar... Ada yang mau belajar???

Akhirnya, Putri Madeleine menikah!

Sabtu, 8 Juni 2013, Putri Swedia, Madeleine akan menikahi bankir Amerika...

Ini kata Van Gaal soal laga Indonesia kontra Belanda

Van Gaal menyangkal bahwa timnya bermain setengah hati saat kontra Indonesia Jumat, 7 Juni 2013.

Pangeran Saudi VS Forbes

Forbes dituntut oleh Pangeran Saudi! Kenapa ya???

Promotor: Indonesia Pakai Kostum Tandang Demi Uang

Banyak pertanyaan, mengapa Indonesia tak pakai kostum 'merah-putih' saat laga kontra Belanda. Pdahal Indonesia bertindak sebagai tuan rumah....

Milan tak punya dana untuk Neymar

Jumat, 7 Juni 2013 09:46 WIB


Neymar berkostum Barcelona


Pemain muda asal Brasil, Neymar telah melabuhkan pilihannya pada Barcelona dalam memulai petualangannya di ranah Eropa. Blaugrana mengalahkan klub-klub yang juga menginginkan jasa Neymar, seperti Real Madrid dan Bayern Munchen. Dan, ternyata raksasa Italia, AC Milan juga sempat masuk dalam jalur perburuan. Wow!

Hal tersebut diutarakan oleh wakil presiden Rossoneri, Adriano Galliani, yang mengatakan kalau pihaknya secara diam-diam juga memantau penyerang bernama lengkap Neymar da Silva Santos Junior tersebut. Namun, karena krisis keuangan (yang melanda tim-tim Italia), Milan pun terpaksa keluar dari jalur perburuan.

Akhirnya, persaingan dalam merebut tanda tangan Neymar pun mengerucut menjadi dua tim saja, Barcelona dan Real Madrid. Meskipun penawaran yang diajukan Los Merengues lebih besar, namun mantan pemain Santos tersebut akhirnya memilih berlabuh di Barca, dan menandatangani kontrak berdurasi lima tahun senilai 57 juta euro.

“Neymar? Kami memantaunya, dan tak ada yang tahu tentang itu. (Namun), kami gagal merealisasikan itu karena dia terlalu mahal. Mereka (Barcelona) memiliki bujet dua kali lebih besar dari yang kami punya. Tak ada tim Italia yang mampu mendatangkannya,” ujar Galliani, seperti dilansir Goal, Jumat (7/6/2013).

Belakangan, tim-tim Italia memang dilanda krisis ekonomi, sehingga kesulitan mendatangkan pemain-pemain kelas wahid. Bahkan, pada musim panas 2012 lalu, Rossoneri terpaksa menjual dua bintang utamanya, Zlatan Ibrahimovic dan Thiago Silva demi menyeimbangkan kondisi keuangan klub.

Siapa yang jadi sasaran berikutnya dari Milan??? Let see...


Sumber : okezone.com
Editor : Anthony Timothy Susanto

Pembantaian 16 Warga Afghanistan oleh Tentara Amerika Serikat

Jumat, 7 Juni 2013 09:04 WIB




Kebencian masyarakat Timur Tengah terhadap Amerika Serikat (AS) nampaknya tidak akan pernah berakhir. Fiuh! Pasalnya, tentara Amerika telah menembaki rakyat Afghanistan hingga menewaskan 16 orang dengan TANPA ALASAN....

Namun tentara itu mengakui kesalahannya di hadapan hakim pengadilan militer Amerika Serikat dan dengan pengakuan bersalah ini, tentara bernama Sersan Robert Bales itu terhindar dari hukuman mati. Wew...

Dengan mengakui 16 dakwaan pembunuhan berencana atas peristiwa yang terjadi di Afghanistan selatan pada Maret 2012 itu. Hakim Kolonel Jeffery Nance pun menyatakan Bales terancam mendekam di penjara seumur hidup, dengan tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat.

Bales mengaku bersalah dalam persidangan yang digelar di pengadilan militer di Joint Base Lewis-McChord, di sebelah selatan Seattle, negara bagian Washington, Rabu, 5 Juni waktu setempat.

Ungkapannya sangat mengerikan.. Bales mengungkapkan dirinya meninggalkan baraknya dan pergi ke desa terdekat. Begitu tiba di desa tersebut, dirinya berniat membunuh lalu dia pun menembaki korban-korbannya satu per satu.

"Tindakan ini tanpa justifikasi hukum, pak," kata pria berumur 39 tahun itu kepada hakim seperti dilansir News.com.au, Kamis (6/6/2012).

Ketika hakim menanyakan alasan dia membantai warga desa tersebut, Bales tak bisa menjawab.

"Pak, sejauh tentang kenapa -- saya telah menanyakan pertanyaan itu sejuta kali sejak saat itu. Tak ada alasan bagus di dunia ini soal kenapa saya melakukan hal-hal mengerikan yang saya lakukan itu," tutur Bales.

Sebagian besar korban tewas dalam kejadian itu adalah wanita dan anak-anak. Selain menembaki korban-korbannya, Bales juga membakar sebagian jasad korban. Benar-benar sangat sadis.

Awalnya, jaksa penuntut militer berupaya menuntut hukuman mati atas Bales pada persidangan yang digelar November 2012 lalu. Namun para pengacara Bales mencapai kesepakatan dengan para penuntut militer untuk tidak menuntut hukuman mati atas terdakwa sebagai ganti atas pengakuan bersalahnya.

Bendera Afghanistan
Tentu saja, hal ini menimbulkan kemarahan para keluarga korban. "Yang saya inginkan cuma melihat orang ini dieksekusi. Kami tak ingin yang lain," kata Samiullah yang kehilangan ibunya dalam pembantaian yang terjadi di Afghanistan selatan pada Maret 2012 itu. Zardana, putri Samiullah dan putranya, Rafiullah juga terluka dalam peristiwa itu.

Zardana yang kini berumur 12 tahun, mengalami kelumpuhan pada salah satu lengan dan kakinya akibat kejadian tersebut. Meskipun dia telah menjalani perawatan medis di AS selama empat bulan.

"Tak ada yang akan memuaskan kami kecuali eksekusi orang ini. Dia telah menembak anak-anak saya, membunuh ibu saya dan kami ingin dia dieksekusi," cetus Samiullah.

Hal senada disampaikan Haji Naeem, warga desa lainnya di distrik Panjwai, provinsi Kandahar, tempat Bales melakukan pembantaian itu. Dalam kejadian tersebut, pria itu terluka bersama seorang putranya dan dua anak perempuannya.

"Lihat apa yang telah diperbuatnya pada saya," ujarnya kepada AFP. "Saya tak bisa menggerakkan lengan saya. Orang-orang Amerika akan melakukan apa yang mereka mau. Hanya eksekusi dia yang akan menyembuhkan luka-luka kami. Kami ingin dia dieksekusi, dan dieksekusi di Afghanistan," tegasnya.

Hmm... Hari ini kita semakin disadarkan bagaimana seseorang bisa kehilangan akal dan membunuh sesamanya tanpa belas kasihan. Bagaimana keadilan juga masih dipertanyakan meskipun di Amerika. So? What do you got?


Sumber : detik.com
Editor : Anthony Timothy Susanto

Aung San Suu Kyi? Presiden Myanmar?

Jumat, 6 Juni 2013 08:40 WIB


Ikon demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi



Pemimpin oposisi Myanmar, Aung San Suu Kyi bicara secara gamblang mengenai keinginannya untuk menjadi presiden. Ikon demokrasi Myanmar itu tak ingin menutup-nutupi soal niatnya tersebut.

"Saya ingin mencalonkan diri menjadi presiden dan saya cukup terang-terangan soal ini," ujar Suu Kyi dalam pertemuan World Economic Forum di Naypyidaw, Myanmar hari ini.

"Jika saya berpura-pura bahwa saya tak ingin menjadi presiden, maka berarti saya tidak jujur dan saya lebih baik jujur pada rakyat saya daripada sebaliknya," tutur wanita peraih Nobel Perdamaian itu seperti dilansir CNN, Kamis (6/6/2013).

Dalam forum tersebut, Suu Kyi juga menyinggung tentang masa kepresidenan Thein Sein yang telah berlangsung dua tahun. Menurutnya, mayoritas warga Myanmar belum merasakan manfaat reformasi yang dijanjikan pemerintahan Thein Sein. WOW! Aung San Suu Kyi benar benar menjanjikan perubahan.

"Jika Anda bicara dengan orang di jalanan, jika Anda bicara pada warga di desa-desa, mayoritas dari mereka akan mengatakan bahwa hidup mereka belum berubah sejak tahun 2010," tutur Suu Kyi.

"Rakyat ingin merasa bahwa mereka diikutsertakan dalam proses perubahan," kata Suu Kyi kepada panel di forum tersebut.

"Dan itu tak ada hubungannya dengan jumlah mobil yang sekarang Anda lihat di Yangon ataupun jumlah majalah yang bisa Anda beli, karena sebagian besar rakyat kami tak punya akses ke itu semua," tandasnya.

Jadi, akankah Aung San Suu Kyi dengan nafas demokrasinya mampu meraih jabatan sebagai Presiden di Myanmar??? Layak ditunggu!!


Sumber : detik.com
Editor : Anthony Timothy Susanto

Insiden pemukulan Pramugari oleh Pejabat Babel

Jumat, 7 Juni 2013 08.17 WIB

(Foto: Aulia/detiknews)
 
Memang ada-ada saja kejadian di Indonesia. Baru saja terjadi fenomena pemukulan Pramugari Sriwijaya Air, Febriani (31) oleh Kadis Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Bangka Belitung, Zakaria Umar Hadi. Saat ini korban masih shock dan ketakutan. Akibat pukulan gulungan koran itu, bagian belakang telinga Febriani mengalami memar.

"Di pipi kiri dan telinga arah pukulnya. Jadi memar," ujar sang adik, Sita kepada detikcom, Kamis (6/6/2013) malam.

Sita mengatakan bahwa sang kakak dipukul oleh Zakaria dengan koran yang telah digulung saat hampir seluruh penumpang telah turun. Namun ternyata ada tiga penumpang yang masih ada di dalam pesawat dan menjadi saksi atas kejadian ini.

"Ada seorang ibu-ibu dengan anaknya. Beliau menangis melihat kejadian (pemukulan) itu," lanjutnya.

Pada saat kejadian, Febriani tak mampu melawan dan hanya bisa menangis ketakutan. Para kru dan kapten pesawat pun ikut melerai namun Zakaria masih terus berteriak.

"Sampai di ruang tunggu kedatangan (Zakaria) masih cekcok dengan kru dan petugas keamanan bandara," kata Sita.

Menurut Sita, sang kakak Febriani tak menyangka akan mendapat perlakuan kasar dari penumpangnya. Walau tak mengira kasus ini akan ramai diberitakan, Sita yakin dengan langkah yang diambilnya.

"Saya bilang kepada kakak saya, harus berani atau kalau dibiarkan saja nanti menjadi kebiasaan buruk," tuturnya.

Yaa, semoga kasusnya bisa cepet selesai ya.... Ini membuktikan bahwa pejabat kita ternyata masih ada yang suka kekerasan...


Sumber : detik.com
Editor : Anthony Timothy Susanto

Sang Pangeran datang untuk melawan mantan kerajaannya Welcome RAUL!

Mantan pangeran Real Madrid, Raul Gonzalez, akan kembali ke Santiago Bernabeu pada musim panas ini. Tetapi, Raul kembali bukan sebagai pemain El Real, melainkan sebagai pemain klubnya sekarang, Al-Sadd, untuk bertanding dalam event Trofeo Bernabeu.

Raul Gonzalez berkostum Al-Sadd
Raul, menghabiskan waktu 16 tahun bersama Madrid dan masih memegang rekor sebagai pemain dengan penampilan terbanyak serta top skor El Real. Saat ini, Raul bermain di Timur Tengah. Dia memperkuat Al-Sadd, yang bermarkas di Qatar.

Sejumlah laporan pada pekan ini menyebutkan bahwa Los Blancos tengah mempersiapkan kedatangan pemain berusia 35 tahun tersebut lewat turnamen tahunan Trofeo Bernabeu. Menurut AS, Kamis (6/6/2013), juara Liga Qatar tersebut sudah sepakat untuk menjadi lawan Madrid dalam event tahun ini, yang mana pertandingan akan berlangsung pada 19 atau 20 Agustus.

Sumber : kompas.com
Editor : Anthony Timothy Susanto

Bagaimana keadaan Afrika??

     Kita kehilangan abad 20." Demikian pendapat salah satu pemikir terkemuka Nigeria. Kondisi ekonomi banyak negara Afrika memang sangat terbelakang. Indikator sosial, yang umumnya berkaitan erat dengan tingkat kemajuan ekonomi, juga menunjukkan keterbelakangan mereka. Di-tengah situasi demikian, hutang negara negara Afrika makin mempersulit proses reformasi ekonomi yang selalu didengungkan oleh hampir semua pihak, termasuk Bank Dunia dan IMF.
    Banyak lembaga internasional yang berusaha mencarikan jalan keluar, bahkan negara "selatan" lain, termasuk Indonesia, juga berusaha membantu. Perhatian dunia memang makin besar, meskipun frustrasi yang muncul juga tidak kalah besarnya. Bukan kebetulan kalau Presiden Bank Dunia yang sekarang, begitu menempati posisinya langsung melakukan kunjungan pertama ke benua ini. Sekedar simbolis? Mungkin ya mungkin tidak.
Banyak strategi dan kebijakan yang sudah disampaikan kepada pemerintah Afrika. Ada usulan yang baik, didasarkan pada studi mendalam serta mengikut-sertakan input masyarakat Afrika sendiri, namun juga tidak sedikit usulan teknokratis yang abstrak dari kenyataan dunia Afrika. Tapi fakta menunjukkan bahwa dalam dekade terakhir ini tidak banyak hasil yang dicapai. Bagi beberapa pihak, ini sumber frustrasi, tapi bagi yang lain, kesabaran lebih banyak dituntut. Argumentasi kaum optimis: yang penting arah kebijakan sudah dibenarkan, dan untuk melihat hasilnya kita perlu lebih sabar menunggu.
     Apakah begitu suram keadaan di Afrika? Unsur non-ekonomi berperan sangat besar untuk menjawab pertanyaan ini. Konflik antar-suku banyak terjadi, motif membangun untuk kepentingan negara, bukan kepentingan suku dan teritorial, masih minim, dan tingkat korupsi merajalela. Pemenang hadiah Nobel kesusasteraan dari Nigeria, Wole Soyinka, bahkan beranggapan bahwa masyarakat di sana sudah "morally bankrupt". Sebelum unsur unsur ini teratasi, sulit mengajukan proposisi untuk perbaikan ekonomi. Demikian pendapat sebagian besar akhli, termasuk pihak asing, yang pernah diminta memberi saran kepada pemerintah Afrika. Apa benar pendapat semacam ini? Bukankah itu semacam pengakuan implisit bahwa ilmu ekonomi tidak dapat memecahkan masalah sosial kemasyarakatan di Afrika? Tapi, Nigeria memang kekecualian, jadi tidak bisa dijadikan ukuran. Sejak boom minyak tahun 1974, makin terlihat jelas bahwa sumber alam tersebut lebih merupakan curse than blessing bagi mereka.
     Sebenarnya, untuk Afrika ada satu hal yang cukup memberi harapan. Meskipun tidak semua, sebagian besar negara di benua tersebut mulai menunjukkan perbaikan di bidang ekonomi makro. Program reformasi ekonomi yang mereka lakukan sejak tahun 1980an mulai menunjukkan hasilnya. Namun, sayang sekali kelanjutan dari perbaikan makro belum tercermin dalam banyak segi kehidupan masyarakat, apalagi mereka yang tergolong miskin dan tidak tinggal di daerah perkotaan. Ini suatu contoh klasik kesenjangan antara indikator makro dan gejala mikro.
     Ada dua atau tiga contoh negara yang menyandang predikat sukses dalam ekonomi makro mereka. Ghana salah satunya. Dalam beberapa tahun terakhir, tepatnya sejak "Economic Recovery Program" dicanangkan tahun 1983, pertumbuhan ekonomi Ghana mencapai rata-rata 5% per-tahun, suatu angka yang sudah tergolong tinggi untuk ukuran Afrika. Tidak ada hal yang aneh dari prestasi tersebut. Kita semua, terutama dari kawasan Asia Pasifik, sudah faham dengan indikator yang umumnya menyertai keberhasilan tersebut: perekonomian yang makin terbuka (porsi ekspor impor dalam GDP Ghana naik dari 32% tahun 1986 menjadi 55% tahun 1994), peran sektor swasta makin besar, dan proses perubahan struktural dari pertanian ke industri juga terjadi dengan cepat.
Implikasi pertumbuhan juga tidak terlalu mengherankan. Tingkat kemiskinan di Ghana turun dari 37% tahun 1987 menjadi 32% tahun 1991, dan proses perbaikan semacam ini terjadi baik di kota maupun di daerah pedesaan.
     Namun, juga sesuai dengan perkiraan kita, program reformasi yang menghasilkan pertumbuhan dan pengurangan kemiskinan diikuti oleh ketimpangan distribusi pendapatan. Perbaikan infrastruktur sosial, seperti kesehatan dan pendidikan, tidak banyak dirasakan oleh kelompok yang paling miskin, karena sebagian besar fasilitas tersebut berada di daerah perkotaan.
     Contoh "sukses" lain terjadi di Pantai Gading (Ivory Coast). Pertumbuhan ekonomi negara bekas jajahan Perancis ini bahkan lebih tinggi dari Ghana, antara 6% sampai 7%. Kondisi infrastruktur fisik, paling tidak dilihat dari gedung gedung dan kondisi jalan, cukup impresif (menurut ukuran Afrika). Namun, pada saat yang sama kita juga dengan segera dapat menangkap kondisi keterbelakangan: tidak ada sense of order! Masuk ke toko, kita juga dapat melihat bahwa jenis barang yang dijual memang sesuai dengan tingkat pendapatan per-kapita mereka yang masih rendah.
     Seperti halnya di negara miskin lain, banyak program pemerintah diarahkan untuk pengurangan kemiskinan. Di Pantai Gading, hal ini dilakukan antara lain melalui suatu program yang mereka sebut sebagai "Social Funds" (SF), dimana pengusaha kecil diberi pinjaman ringan untuk membuka usaha, tapi persyaratan usulan tidak diterapkan terlalu ketat dan dengan administrasi yang sangat minim. Kira kira program SF mirip dengan gabungan konsep IDT dan KUK di Indonesia.
     Bagaimana hasil SF? Tidak terlalu mengherankan: kurang mengenai sasaran! Contoh ekstrim, salah satu proyek yang penulis kunjungi menggunakan SF untuk kegiatan perdagangan. Tapi, anehnya dana tersebut dipakai untuk mengimpor keran mewah dari Itali, lalu dijual di Abijan, kota terbesar di Pantai Gading. Jelas bahwa komoditas tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan masyarakat miskin, dan penerima dana SF pun bukan tergolong miskin. Masih banyak kasus serupa yang kita temui dari proyek yang dibiayai oleh SF. Contoh Ghana dan Pantai Gading di atas tergolong contoh "sukses" menurut ukuran Afrika. Dapat dibayangkan bagaimana keadaan di negara Afrika yang lain.
     Peran bekas pemerintah kolonial juga tidak selalu positif. Sebagai contoh, dalam rangka program privatisasi, pemerintah Pantai Gading memutuskan untuk meprivatisasi sektor telekom mereka. Sesuai dengan saran lembaga internasional, proses privatisasi harus melalui penawaran terbuka. Hasilnya? Perusahaan telkom Malaysia pemenang pertama, diikuti oleh AT&T dari AS, lalu perusahaan dari Perancis nomor tiga. Dalam kenyataan, melalui "tekanan" pemerintah Perancis perusahaan nomor tiga yang dimenangkan.
Bagaimana dengan sektor pendidikan? Kondisi pendidikan di Afrika cukup menyedihkan. Sebagai ilustrasi, rasio anak usia sekolah SD yang benar benar sekolah (school enrollment ratio, atau SER) bukan hanya rendah tapi terus turun dalam dekade terakhir. Tahun 1980, SER rata-rata Afrika 80.8%, dan tahun 1993 hanya 72%. Melihat statistik SER seluruh dunia, termasuk negara berkembang, umumnya selalu ada peningkatan SER, tapi ternyata Afrika merupakan kekecualian. Data terakhir menunjukkan bahwa pada tahun 1995 masih sekitar 40 juta anak di Afrika yang tidak pernah sekolah.
     Apa begitu penting pendidikan ini? Para akhli dapat memberi berbagai macam argumentasi tentang pentingnya unsur lain, tidak hanya pendidikan. Tapi, umumnya semua sepakat bahwa soal pendidikan tidak dapat ditawar lagi sebagai persyaratan bagi suatu masyarakat untuk maju. Sekedar sebagai ilustrasi, tahun 1960an (atau 35 tahun lalu), SER Jepang sudah 100%, dan pada akhir 1980an semua negara di Asia Pasifik sudah mencapai angka 100%. Hasilnya? East Asian Miracle, yang sebetulnya bukan miracle sama sekali. Di pihak lain, India mempunyai catatan prestasi kurang baik dari sudut SER. Masih sekitar 50% penduduk India tidak pernah menikmati pendidikan SD samasekali. Hasilnya? Bandingkan pertumbuhan ekonomi India dan Asia Pasifik.
     Kembali ke Afrika, dengan tingkat pendidikan yang begitu rendah, banyak yang kemudian bertanya: apakah kebijakan liberalisasi perdagangan dan ekonomi dapat membantu mereka? Apa arti WTO, perdagangan bebas dan deregulasi bagi mereka? Bagaimana mungkin masyarakat yang 60% sampai 70% tidak pernah sekolah dapat ikut menikmati ataupun memberi kontribusi pada proses liberalisasi ekonomi? Suara dan pertanyaan semacam ini banyak anda dengar dari masyarakat berbagai lapisan di Afrika, termasuk dari para intelektual (mahasiswa, profesor dan peneliti).
     Jadi bagaimana? Dari sudut mana saja, sulit mengharapkan perbaikan di Afrika kalau reformasi ekonomi (termasuk liberalisasi perdagangan, privatisasi dll) tidak dilakukan mereka. Namun, bagaimana mungkin dampak reformasi dinikmati sebagian besar masayarakat (yang masih miskin)? Umumnya, solusi yang diajukan, termasuk oleh Bank Dunia, adalah: lakukan reformasi secara selektif, dengan memilih jenis deregulasi yang akan cepat memberi manfaat masyarakat banyak. Artinya, ada kesadaran bahwa kalau program reformasi tidak memberi hasil cepat, dukungan dan partisipasi masyarakat terhadap program tersebut akan hilang, dan kalau hal itu sudah terjadi, secara politis akan susah bagi siapapun yang memerintah untuk melanjutkan program perbaikan.
     Mencari sinisme masyarakat di Afrika terhadap program liberalisasi ekonomi, termasuk dari kaum intelektual, semudah mencari penduduk Afrika yang tidak bekerja (menganggur). Hampir di mana mana ada.

UN Mestinya Pemetaan, bukan Penentu Kelulusan

     Jakarta: Pemerintah seharusnya melakukan kajian pendidikan secara mendalam terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Anggota Komisi X DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Dedy Gumelar alias Miing mengatakan pemerintah seharusnya menjadi UN sebagai pemetaan, bukan sebagai penentu kelulusan. Kepada Media Indonesia, Dedy mengatakan jika ingin melakukan perbaikan mutu pendidikan di Indonesia, pemerintah harus memulai dari daerah yang paling tertinggal. Ia mencontohkan berdasarkan hasil UN kemarin, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan daerah dengan jumlah kelulusan terendah. 

       Dengan melihat hal itu pemerintah seharusnya bisa langsung melakukan intervensi anggaran. "Lakukan pembinaan terhadap guru-guru di sana. Kirimkan guru-guru yang baik agar bisa memberikan pengajaran kepada anak-anak. Perhatikan masalah kesejahteraan juga sarana prasarana pendidikan disana," terangnya, Kamis (6/6). 

         Pendidikan berkeadilan tidak selalu memberikan bantuan sama rata tetapi bagaimana memenuhi kebutuhan setiap daerah sesuai dengan yang diperlukan. Untuk menilai kondisi yang beragam tidak bisa digunakan alat ukur yang sama karena daerah yang tertinggal tidak akan pernah bisa mengejar ketertinggalannya. 


Sumber : metrotvnews.com (Vera Erwaty Ismainy)