Proposal Penelitian Ilmiah


Ini adalah proposal penelitian saya untuk dengan judul "Pengaruh Ujian Nasional dalam Sistem Pendidikan Indonesia terhadap Prestasi Mahasiswa di Jember". Mungkin bisa jadi referensi buat temen-temen yang akan ngajuin Proposal Penelitian Ilmiah... Kritik atas penulisan Proposal Penelitian Ilmiah ini ditunggu ya temen-temen... Terima Kasih...

PROPOSAL PENELITIAN ILMIAH

TUGAS MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN











Oleh
Achmat Akbar A / NIM 090910101019
Anthony Timothy Susanto / NIM 100910101048
Oktavian Sandiz Prasetya / NIM 100910101070
Ganda Atmaja / NIM 120910101054






JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JEMBER
2013 

A.    JUDUL PENELITIAN

Pengaruh Ujian Nasional dalam Sistem Pendidikan Indonesia terhadap Prestasi Mahasiswa di Jember



B.    PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kemajuan suatu negara sangatlah bergantung pada tingkat pendidikan dalam Negara tersebut. Semakin baik sistem pendidikan dalam suatu Negara, semakin baik pula output yang dihasilkan. Jika sumber daya manusia yang dihasilkan itu mampu bersaing di dunia internasional, maka SDM tersebut akan menjadi aset penting yang mendukung suatu Negara dalam mencapai kemajuan.
Pendidikan yang sejatinya mempunyai tujuan yang baik demi kemajuan bangsa dan negara maka proses pelaksanaan pendidikan harus benar-benar dilaksanakan secara baik juga. Pelaksanaan sebuah pendidikan harus dalam rangka pengembangan potensi diri, kreativitas, kecerdasan, kepribadian, akhlak mulia, dan pengendalian diri seseorang yang nantinya akan berpengaruh dalam mewujudkan kemajuan bangsa dan negara. Nampaknya, hal ini tidak berlaku di Indonesia dan tercermin dalam kebijakan pengadaan Ujian Nasional.

Dalam era reformasi peran kalangan di luar pemerintahan  dalam dunia pendidikan di Indonesia menjadi semakin terbuka. Masyarakat memiliki kesempatan untuk menyampaikan kritik yang membangun terhadap pendidikan di Indonesia. Seiring dengan kebebasan berpendapat ini, muncul banyak kritik dari masyarakat yang melihat bahwa tingkat pemerataan pendidikan dan kualitas pendidikan masih buruk dan banyak terjadi penyelewengan di mana-mana. Kritik yang ada membuat pemerintah melakukan upaya dalam melakukan evaluasi pendidikan di Indonesia. Hingga terbentuklah kebijakan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) sebagai bentuk evaluasi pendidikan di Indonesia.

Ujian Nasional sebenarnya merupakan kebijakan pemerintah yang dibuat berdasarkan tujuan yang baik dalam upaya evaluasi pendidikan di Indonesia. Maksudnya, melalui ujian nasional, pemerintah berharap dapat menguji kemampuan para siswa di Indonesia, apakah mereka layak untuk lulus dari tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Namun dalam pelaksanaannya Ujian Nasional menimbulkan banyak perdebatan dalam masyarakat. Ujian Nasional yang dinilai kurang efektif bahkan ada yang menilai bahwa Ujian Nasional itu tidak berguna karena dalam pelaksanaannya banyak sekali terjadi pelanggaran – pelanggaran terhadap Ujian Nasional. Mulai dari dengan praktek curang menyontek sampai dengan beredarnya kunci jawaban sebelum ujian. Ini membuat tujuan pemerintah untuk menguji kemampuan siswa menjadi sia-sia. Bahkan justru mendatangkan keuntungan bagi pihak-pihak tertentu.

Tahun ini pemerintah menerapkan 20 paket soal dari yang sebelumnya 5 paket soal dengan harapan akan meningkatkan kejujuran dan mengurangi berbagai upaya kecurangan. Namun ternyata  implementasi dari tujuan yang baik tersebut tidak sebaik rencananya. Pendistribusian soal yang tidak tepat waktu harus membuat beberapa siswa Sekolah Menengah Atas tidak dapat mengikuti ujian bersama sekolah-sekolah Menengah Atas pada umumnya. Ini membuat para siswa yang tidak dapat mengikuti ujian nasional pada waktunya menjadi ketakutan. Ujian Nasional pun dianggap semakin membebani siswa. Masalah pada  Ujian Nasional di tahun ini merupakan sebuah puncak dari masalah-masalah Ujian Nasional ditahun- tahun sebelumnya.

Banyaknya masalah yang timbul serta keluhan dari siswa siswa SMP dan SMA utamanya membuat masyarakat menilai alangkah lebih baik jika Ujian Nasional dihapuskan. Namun, pendapat ini juga mendapat tentangan dari beberapa pihak yang merasa bahwa ujian nasional membawa manfaat yang baik bagi pendidikan di Negara Indonesia.

Berdasarkan fakta-fakta di atas, penulis merasa tertarik  untuk mensurvei apakah mahasiswa sebagai golongan yang telah melalui Ujian Nasional merasa bahwa Ujian Nasional memberikan manfaat bagi mereka serta meninjau bagaimana prestasi mereka dalam perkuliahan.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diulas di atas, maka penulis membuat rumusan masalah mengenai seberapa besar pengaruh Kebijakan Ujian Nasional dalam Sistem Pendidikan di Indonesia terhadap prestasi Mahasiswa di Kota Jember?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, penulis menetapkan tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui seberapa besar pengaruh adanya Ujian Nasional terhadap prestasi Mahasiswa di Kota Jember.

C.    TINJAUAN PUSTAKA

Kebijakan Ujian Nasional

Ujian Nasional merupakan salah satu upaya pemerintah dalam rangka memacu peningkatan mutu pendidikan. Ujian Nasional selain berfungsi untuk mengukur dan menilai pencapaian kompetensi lulusan dalam mata pelajaran tertentu, serta pemetaan mutu pendidikan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah, juga berfungsi sebagai motivator bagi pihak-pihak terkait untuk bekerja lebih baik guna mencapai hasil ujian yang baik. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan adanya Ujian Nasional, siswa terdorong untuk belajar lebih baik dan guru terdorong untuk mengajar lebih baik pula. Dari perspektif yang lain, informasi tentang peta hasil Ujian Nasional dapat digunakan sebagai umpan balik bagi semua pihak terkait dalam rangka memperbaiki kinerjanya masing-masing. Oleh karena itu, peta hasil Ujian Nasional merupakan bahan informasi yang perlu dikaji secara mendalam oleh semua pihak dalam rangka memperbaiki pembelajaran dan mutu pendidikan secara berkelanjutan

Kebijakan Ujian Nasional mengharuskan semua kelulusan harus berdasarkan standarisasi dari pusat merupakan tantangan yang tidak bisa terselesaikan, dalam hal ini berfokus pada mutu pendidikan yang ada di indonesia. Di Indonesia kami bagi menjadi dua wilayah dalam mutu pendidikannya,  kualitas yang bisa dikatakan baik adalah daerah core, yang akses untuk menunjang kualitas pendidikan mudah semisal di propinsi jawa barat.  ujian terstandarisasi  seperti UN bukanlah alat untuk mengukur prestasi belajar seorang siswa melainkan hanyalah alat untuk mengukur kesejahteraannya. Ini memang masuk akal. Murid-murid dari keluarga kaya atau berkecukupan memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan tingkat intelektualitasnya. Dengan kelebihan keuangan orang tuanya, seorang murid bisa mengembangkan dirinya dengan mengikuti berbagai macam kursus–berhitung, musik, bela diri–yang ada di luar rumahnya. Lebih lanjut lagi, orang tuanya bisa menyediakan buku, majalah, dan koran yang sesuai dengan minat anak mereka. Dan pada jaman modern dan berteknologi ini, sang murid memiliki akses terhadap lebih banyak informasi dengan menggunakan internet.  dan yang kami nilai kurang adalah wilayah untuk menjangkau kualitas pendidikan susah, biasanya terletak di wilayah yang terisolir, kurangnya guru, gedung sekolah yang tidak mumpuni dan tingkat pendapatan peduduk yang minim di suatu wilayah menjadi penyebabnya.  Di daerah pedalaman, masih banyak murid sekolah yang harus menempuh jarak puluhan kilometer jauhnya hanya untuk belajar di sekolah. Perjalanan ini sangat menguras fisik, makan waktu, berjalan puluhan kilometer, melewati rintangan alam seperti tebing, sungai deras, dll. Sarana prasarana pun masih jauh dari layak. SCTV sekali waktu menyiarkan berita tentang sekolah dasar (SD) di Nusa Tenggara Timur (NTT) dimana murid hanya memiliki meja belajar di dalam kelas tetapi tidak memilki kursi. Jadilah para murid melakukan kegiatan belajar selama berjam-jam di kelas dalam kondisi berdiri, sedang tangan bertumpu pada meja belajar. Layakkah UN menentukan kelulusan murid-murid ini lewat ujian yang cuma berlangsung dalam hitungan hari?

Jika melihat pembagian wilayah dalam kualitas pendidikan,  penilaian tidak bisa didasarkan UN, karena mutu pendidikan di setiap wilayah berbeda. Guru sekolah lebih mengenal baik muridnya daripada pemerintah, dalam hal ini DikNas. Jadi, memberikan ujian standar bagi semua murid di seluruh Indonesia adalah sama dengan menganggap setiap murid di Indonesia memiliki kemampuan yang sama, padahal mereka berasal dari latar belakang yang tidak sama.

Salah satu contoh saja dari penilaian kualitas,  dari 8 universitas yang terakreditasi A, hanya Universitas Hasanuddin yang berada diluar Jawa. Ketimpangan mutu pendidikan ini akan membawa malapetaka bagi bangsa kedepan. Ketimpangan SDM akan menyebabkan ketimpangan penguasaan sektor-sektor produksi ke depannya, yang akan berujung pada timbulnya kecemburuan. Dan alasan ketidaksiapan SDM menyebabkan beberapa propinsi di indonesia akan selalu termarjinalkan Sebenarnya yang lebih tahu terhadap kompetisi siswa adalah masing-masing guru, bukan pemerintah. Jadi yang berhak menentukan kelulusan siswa adalah guru di sekolah masing-masing.

Kontroversi UN

Pada 3 Mei, aktivis forum bersama Surakarta berunjuk rasa dengan kritik atas kacaunya dunia pendidikan, terutama dalam pembuatan dan pelaksanaan Ujian Nasional. mereka menuntut untuk dihapuskannya UAN dan bila tetap diharuskan memakai sistem rayonasi. Ada yang menyuarakan adanya indikasi jual beli jawaban UAN ketika pelaksanaan UAN dimulai, kualitas pendidikan belum merata, dan UN tidak bisa dijadikan standar kualitas.  Standarisasi sesuai rayonasi dipandang sesuai jika menilai ketidak merataan kualitas pendidikan.

Mahasiswa pada saat ini, khususnya yang menempuh status pendidikan S1 pernah merasakan pelaksaan UN, bahwa bisa saja apa yang dilakukan forum bersama mahasiswa Surakarta dapat dijadikan generalisir tentang keinginan perlu diadakannya diskonstruksi tentang standarisasi UN.
Banyak elemen yang menyayangkan kebijakan Ujian Nasional, karena kebijakan ini menjadi tidak transparan dalam pembuatan teknisnya, kami contohkan adalah penilaian dalam Ujian Nasional terkesan terlalu tinggi dalam standarisasinya. Tidak ada mekanisme pengambilan keputusan bersama yang melibatkan banyak mutu pendidikan, antara kualitas yang baik dan buruk, jika pemerintah (DikNas) mau mendengarkan apa yang sesuai dengan pendidikan di seluruh Indonesia maka bisa saja problematika UN bisa terselesaikan. Namun ada pihak yang sepakat dengan kebijakan UN dengan alasan kebijakan penetapan standarisasi menuntut pembelajaran akan apa yang diperlukan untuk sebuah kelulusan,  UN merupakan cara untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia. Tanpa adanya ujian nasional, pemerataan pendidikan di seluruh kawasan sulit untuk diwujudkan, selain itu yang menjadi tolak ukur tingkat pendidikan pada suatu daerah di Indonesia satunya-satunya saat ini adalah UN.  Jika mengandalkan guru masing-masing yang mengetahui kompetisi yang dimiliki oleh siswa, yang akan terjadi siswa hanya sebatas akan mendapatkan pengetahuan dari yang diketahui oleh gurunya bukan apa yang harus mereka ketahui sesuai perkembangan nasional.

Sebenarnya tidak hanya mahasiswa saja yang menyerukan kekurangan dari kebijakan UN, banyak masyarakat diluar dari konteks ini menginginkan distruksi terhadap kebijakan ini. Pembuktiannya, Diknas kalah dalam pengadilan di tingkat MA, dan MA menolak permohonan PK terkait Ujian Nasional. hal ini menandai aspirasi masyarakat masih tidak menstujui kebijakan Diknas ini. Namun Pemerintah (Diknas) masih mengotot inilah yang yang diperjuangkan, terkesan pemerintah dan DPR tidak menghormati keputusan MA. Jika kita membicarakan sebuah kebijkan tidak lepas dari kepentingan yang bersifat inklusif dari pihak yang diuntungkan dari kebijakan ini, sebab tidak sedikit APBN yang terkuras untuk pelaksanaan UN. Ratusan milyar rupiah gagal dalam meningkatkankualitas pendidikan Nasional, bayangkan segi positif jika anggran biaya negara untuk UN dialih fungsikan sebagai perbaikan fasilitas pendidikan di seluruh wilayah RI.

Dalam pelaksanaannya Ujian Nasional memerlukan biaya percetakan yang besar dan memberikan keuntungan besar bagi usaha percetakan, usaha bimbingan belajar yang terdaftar juga bisa mendorong pemerintah terselenggaranya pendidikan, dan yang lebih ekstrim munkin adanya jual beli jawaban UN. Tidak menutup kemungkinan jawaban yang dijual sangat maksimal dalam akurasi kebenaran jawaban dan tentunya tidak dengan jawaban yang benar 100 % namun perlu persentase yang lebih kecil agar nilai tidak mutlak baik. Pemerintah (diknas) seharusnya mengkaji ulang kebijakannya, dengan diiringi perbaikan kualitas pendidikan, dampaknya lebih pada subtansi pendidikan itu sendiri, yag perlu diperbaiki misalnya gedung sekolah, dimana masih banyak wilayah yang terioslir, roboh, minim fasilitas yang membuat siswa tidak bisa lancar dalam proses belajar.  Perlu perbaikan sarana pendidikan yang berkaitan dengan penyediaan dana semaksimal dan se-efesien mungkin untuk menjangkau kualitas pendidikan di wilayah manapun, karena pendidikan adalah dasar dari kemajuan suatu bangsa.

Sistem Pendidikan Nasional

Sejatinya dan seharusnya pendidikan hadir sebagai transformasi pengetahuan yang menyediakan karakter dasar kebutuhan manusia untuk menjadi pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab. Begitulah pandangan John Locke tentang pendidikan. Pendidikan sebagai sarana untuk membentuk manusia menjadi pribadi yang bermoral, berpengetahuan luas dan bertanggung jawab atas diri sendiri dan semua tugas-tugasnya. Pendidikan memimpikan kehidupan yang berkeadaban menuju pemanusiaan manusia sehingga tercipta tatanan sosial yang seimbang dan menyejahterakan. Pendidikan hadir sebagai sarana menjawab problem kemanusiaan yang sedang kita hadapi saat ini, bukan sebagai sarana menjawab soal-soal Ujian Nasional seperti selama ini terjadi dalam proses pembelajaran di sekolah di Indonesia.

Sejak diberlakukan UN banyak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada pelaksanaannya. UN dianggap tidak bisa menjadi tolak ukur kecerdasan siswa karena tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pelaksanaan UN kerap terjadi kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh berbagai oknum
UN hanya menjadi momok yang menakutkan bagi siswa. Begitu banyak siswa yang menjadi korban akibat efek psikologis yang ditimbulkan dari pengadaan UN. Proses pembelajaran di sekolah kita hanya menargetkan pencapaian nilai angka-angka prestisius dalam menjawab soal ujian, baik ulangan tengah semester, ujian semester atau ujian nasional. Siswa dipaksa mampu menjawab semua itu hingga mencapai angka tertinggi. Tidak mengherankan dalam proses menjawab soal pun sering terjadi kecurangan, bahkan dalam ujian nasional kecurangan itu sangat sistematis dan melibatkan banyak pihak. Nilai selama ini telah menjebak siswa dalam kungkungan angka-angka. Kemampuan diri hanya diukur dari pencapaian nilai, bukan dari kualitas subtantif kemapanan moral dan intelektual yang memang dimiliki. Nilai membuat peserta didik lupa bahwa pada prinsipnya pendidikan hendak membentuk kemapanan moral dan intelektual. Akibatnya peserta didik hanya mengejar nilai berupa angka-angka yang tinggi, bahkan dengan cara curang sekalipun.

Dulu sudah ada, EBTANas tetapi para murid tidak merasa tertekan lantaran ujian tersebut bukan penentu kelulusan murid. Lebih bagus UN dijadikan alat pemetaan sekolah-sekolah di Indonesia. Dari hasil ujian akan terlihat sekolah mana yang murid-muridnya memiliki kemampuan bagus. Sekolah itu kemudian dijadikan sekolah unggulan. Sedang untuk sekolah-sekolah yang skor UN murid-muridnya rendah perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Mungkin fasilitas mengajar belajar di sekolah tersebut perlu diperbaiki. Kemampuan gurunya perlu ditingkatkan.
Selayaknya  proses kegiatan belajar mengajar (KBM) bukan hanya di kelas saja. Menurut saya, dalam atmosfir pendidikan, kegiatan yang ada hubungannya dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, dikategorikan sebagai proses kegiatan belajar mengajar.Ingat, bahwa orientasi pembelajaran selalu merujuk kepada prinsip learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to life together , secara sinergis.

D.    HIPOTESIS

Berdasarkan tinjauan pustaka di atas, penulis mencoba menyimpulkan kesimpulan sementara yaitu Ujian Nasional membawa pengaruh yang besar terhadap prestasi Mahasiswa di Jember.

E.    METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yaitu prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek atau objek penelitian (seorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-faktanya yang tampak atau sebagaimana adanya. Sedangkan metode analisis penelitiannya menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan angket tertutup. Adapun pengertian dari metode kuantitatif sendiri adalah metode yang menggunakan data penelitian berupa angka-angka dan dianalisis menggunakan statistik. 

Populasi dan Sampel Penelitian

•    Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam peneltian ini, yang menjadi populasi dari pengumpulan data dengan cara menyebarkan angket tertutup dalam penelitian ilmiah ini adalah Mahasiswa di Jember.
    Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Dalam penelitian ilmiah ini, yang menjadi sampel penulis untuk mengumpulkan data adalah:
o    20 orang Mahasiswa Universitas Jember
o    20 orang Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember
o    20 orang Mahasiswa Universitas Mandala Jember
o    20 orang Mahasiswa Universitas Islam Jember
o    20 orang Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam  Negeri Jember

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan Data yang digunakan oleh penulis adalah teknik penyebaran angket tertutup. Angket tertutup adalah suatu angket dimana pilihan-pilihan jawaban yang sudah ditentukan oleh penulis.

F.    DAFTAR PUSTAKA

Forbes BEM UNS Tuntut UN Dihapus, diakses dari http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/05/03/223661/Forbes-BEM-UNS-Tuntut-UN-Dihapus pada 5 Juni 2013

http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/pgsdkebumen/article/download/425/208

http://www.stkippgrimetro.ac.id/download/21_DASPEN%20Paket%208.pdf

Mahasiswa UNM, Adu Argumen Tentang UN, diakses dari  http://makassar.tribunnews.com/2013/05/12/mahasiswa-unm-adu-argumen-tentang-un pada 5  Juni 2013

Sekolah Mirip Kandang Ini Nyaris Roboh,  diakses dari http://edukasi.kompas.com/read/2011/04/14/18273626/Sekolah.Mirip.Kandang.Ini.Nyaris.Roboh pada 5 Juni 2013

0 komentar:

Poskan Komentar